Mayat Hidup

Gairah kerja adalah pertanda daya hidup; dan selama orang tidak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut.

(Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal. 460)

Sebetulnya ia sudah mati sejak tahun 2005. Hanya keajaiban semata yang membuatnya masih tampak hidup. Paling tidak: terkesan hidup. Padahal sejatinya, ia sudah lagi mati tak bernyawa. Tak berhasrat. Mati dan tak punya inisiatif lagi.

Apa mau dikata, manusia terkadang kerap tak menyadari bahwa dirinya masih lagi bernafas di tengah ladang kehidupan atau sudah mengabu diterbangkan angin selatan. Tak banyak orang yang menyadari hal itu.

Ada yang begitu merasa hidup. Bangun pagi dengan bersenang hati, dan dengan kobar melantangkan semangat: “Hei dunia, ini aku!”. Di sisi lain, ada yang merasa masih hidup, padahal sudah mati sejak beberapa tahun silam. Mati rasa, mati daya. Sisanya adalah jalan tengah. Jalan di mana orang-orang yang lalu lalang di sana menyadari betul untuk apa mereka hidup dan suatu saat ia pun bakal mati.

Namun begitulah ia kerap kulihat di teras masjid setiap sehabis sholat siang. Ia selalu termenung di sana. Berangin-angin sesudah jam makan. Yang membuatku terkadang berpikir: apa yang ia pikirkan. Jadinya aku dan dia sama-sama berpikir. Sialan!

Sekilas ia tampak seperti manusia kebanyakan. Normal-normal saja. Pakaiannya bersih, janggut dan kumisnya terpangkas rapi. Sepatunya mungkin dari model lama, tapi penampilannya jauh dari memprihatinkan. Pola hidupnya sehat. Punya pekerjaan tetap. Bercinta dengan istri seminggu tiga kali. Dan telah lagi memiliki dua butir kepala bocah yang menyenangkan di rumah. Semua tampak normal. Tapi ia selalu duduk berpikir, termenung di teras masjid itu setiap siang.

“Boleh ikut duduk?” sapaku tiba-tiba.
“Eh, Mas? Silahkan. Silahkan.” ia tersenyum kaku.
“Sedang apa?”
“Ah, sedang santai aja, Mas.”
“Santai yah. Tapi kuperhatikan kamu selalu berpikir.”
“Eh? Ehm, nggak kok, Mas.”
“Kenapa…”
“Hmmmfffhhh… entahlah, Mas…”
“Entahlah bagaimana?”
“Saya ini seperti mayat hidup saja, Mas, rasanya.”
“Mayat hidup?”
“Ya. Mestinya sudah sejak tiga tahun lalu saya mati.”
“Hah?! Mati?!”
“Ya, Mas. Tapi tetap saja begini. Kerja bertahun-tahun. Bangun pagi, lekas-lekas berangkat ke kantor pada jam yang sama, begitu pun pulang pada jam yang sama pula. Sampai di rumah, ketemu anak istri, hingga keesokan harinya lagi. Terus seperti itu. Bertahun-tahun, Mas. Bertahun-tahun. Karir biasa saja, gaji pun seperti hidup di neraka.”
“Hei… kenapa begitu bicaramu. Kamu seperti tidak pernah bersyukur.”
“Sorry, Mas. Tapi memang begitu kenyataannya. Karir saya mentok. Saya melakukan sesuatu yang nyaris sama selama bertahun-tahun. Saya hampir lupa: apa saya masih punya cita-cita. Rasanya sudah tak mungkin.”
“Hmmm…”
“Pesimis ya, Mas? Mungkin. Tapi apa yang masih mungkin saya lakukan. Semua sudah terpola selama bertahun-tahun. Saya ini sudah mati sebetulnya.”
“Kau tak punya hobi? Sahabat dekat? Teman berkelakar barangkali?”
“Ah, semua sudah tersita dengan pekerjaan, Mas. Kalau ada keluangan waktu, pasti sudah letih. Ironisnya, pekerjaanku pun begitu-begitu saja. Ingin mati saja rasanya.”
“Hati-hati kalau bicara. Istri dan anakmu sayang padamu kan.”
“Hanya itu yang masih membuat saya bertahan, Mas. Selebihnya saya hanya menjalani kehidupan yang hampa.”
“Kau mesti banyak bersyukur, Kawan.”
“Lantas apa, Mas? Bertahun-tahun saya pun berdoa pada Tuhan, tapi penghidupanku pun tetap begini-begini saja. Tak ada perubahan.”
“Hei, Kau sinis pada Tuhan itu namanya. Tuhan takkan mengubah hidupmu kalau bukan kamu sendiri yang berusaha mengubahnya. Tak ada yang jatuh dari langit. Semua mesti diusahakan.”
“Ah, sok betul bicara Mas ini. Saya bukan perlu nasihat, Mas. Saya hanya ingin semua ini berakhir. Capek saya. Letih. Begini-begini terus hidup saya.”
“Apa kamu sudah siap mati? Kok dari tadi yang dibicarakan soal mati terus.”
“Mau apa lagi, Mas? Mau apa lagi?”
“Keluargamu?”
“Ah, nggak taulah, Mas. Nggak tau!”
“Hmmm…”
“Lagi pula Mas ini siapa sih? Sok mencampuri hidup saya. Sok perhatian dan memberi nasihat pula. Hidupku bukan urusan Mas.”
“Kalau ternyata hidupmu adalah urusanku, gimana?”
“Hahaha! Nggak usah aneh-aneh, Mas. Memangnya Mas ini siapa, kok ngaku-ngaku hidup saya merupakan urusan Mas.”
“Aku?”
“Ya. Sering saya lihat Mas sholat di sini. Tapi nggak pernah kenal siapa.”
“Aku… Malaikat Pencabut Nyawa.”
“Hah?!!!”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 

 

Hahahaha,. Lucu sekali hidup ini,.

Aq, yang saat ini masih begitu mudanya, 18 tahun usiaQ klo kamu tau! Alhamdulillah aq yang masih seumur jagung ini sudah punya pekerjaan mapan, untuk setahun kedepan lah setidaknya,. Mulai minggu depan, menginjak usia baruQ, aq juga mulai kuliah di salah satu PTS yang ada di jakarta,.

Cita2? Tentu gak perlu di tanya, aq pasti punya cita2!! Aq pngen bikin rumah yang gedhe buat ibuk, punya pekerjaan mapan biar aq bisa sekolahin adek kecilQ, pngen,.,. Banyak!! seakan gak ada habis nya klo aq pikir2,.

Masa depan? Pastinya punya n lebih jelas lah, dari pada sodara2Q yang saat ini masih di luar sana, di pinggir2 jalan ibu kota Jakarta,.

Tapi masih saja,. Kadang aq bingung,. Kadang aq seakan gak tau,.

Siapa aq? Apa tujuan hidupQ? Apa ini bener cita2Q?

Andai hidup ini bagai cerita/sandiwara,. Orang bisa saja tertawa, padahal dia baru saja melakonkan peran luar biasa sengsara dan penuh derita di atas panggung sandiwara,. Tapi inilah hidup,.

The show must go on!!

Explore posts in the same categories: Cerita Hidup

Comment: